WAYANG KULIT, RIWAYATMU KINI (TUGAS ANTROPOLOGI)

WAYANG KULIT, RIWAYATMU KINI

Tugas Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pengantar Antropologi


Disusun Oleh:

Nama              : Yudha

NIM                : D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2010


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakan Masalah

Sejarah masa lampau merupakan warisan dari para pendahulu yang seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh para generasi berikutnya. Salah satunya adalah mahakarya yang terkenal dari Indonesia yaitu wayang kulit. Wayang kulit secara sederhana merupakan sebuah kesenian tradisional masyarakat Jawa yang dibuat dari kulit binatang dan diukir sedemikian rupa serta dimainkan oleh seorang dalang dan diiringi oleh musik tradisional pula yakni gamelan. Dalam pementasan wayang kulit disajikan sebuah cerita yang diambil dari kehidupaan sehari-hari sebagai contoh dan pedoman hidup seseorang. Akan tetapi apa yang terjadi dengan perkembangan wayang kulit sekarang ini? Kesenian wayang kulit sekarang ini semakin hari semakin memudar, tidak seperti dahulu yang dipuja dan dikagumi oleh masyarakat luas. Banyak pertunjukan wayang kulit yang digelar pada saat ini untuk menghidupkan kembali masa kejayaan seperti jaman dulu, tapi sedikit sekali penonton untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit tersebut dikarenakan banyak anggapan yang menyebutkan bahwa wayang kulit itu sudah bukan jamanya lagi, ada juga yang berpendapat bahwa wayang kulit tersebut menggunakan bahasa yang kurang dimengerti oleh banyak khalayak dengan menggunakan bahasa Jawa. Sebenarnya dibalik semua itu wayang kulit  memiliki arti dan seni yang tinggi dilihat dari ukiran dan pesan-pesan yang disampaikan oleh seorang dalang. Banyak masyarakat sekarang ini yang tidak mengerti akan hal itu, dan kebanyakan adalah para generasi muda yang seharusnya dapat melestarikan kesenian wayang kulit ini. Para generasi muda sekarang ini cenderung ke arah dunia Barat dan sedikit demi sedikit meninggalkan unsur budaya tradisinya sendiri. Para generasi muda cenderung lebih percaya diri dengan mengakui budaya asing dari pada budaya sendiri. Baru-baru ini banyak klaim dari berbagai Negara yang menyebutkan bahwa wayang kulit adalah bagian dari kesenian mereka. Sontak masyarakat geram akan hal itu tetapi kejadian seperti ini seharusnya menjadi sentilan masyarakat Indonesia sendiri  bukan malah menyalahkan negara lain. Jika kesenian wayang kulit tersebut dilestarikan khususnya oleh para generasi muda pasti semua kejadian klaim-mengklaim ini tidak akan terjadi. Kesenian wayang kulit harus terus dan tetap dilestarikan keberadaannya. Para generasi berikutnyalah yang harus melestarikannya agar tidak hilang ditelan jaman. Jika bukan generasi muda siapa lagi yang dapat meneruskan warisan budaya Indonesia khususnya kesenian wayang kulit.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dirumuskan beberapa rumusan masalah mengenai kesenian wayang kulit adalah sebagai berikut:

1.      Pengertian kesenian wayang kulit menurut para tokoh masyarakat luas ?

2.      Sejarah dan asal usul wayang kulit itu sediri di Indonesia ?

3.      Eksistensi kesenian wayang kulit sekarang ini ?

4.      Jenis-jenis kesenian wayang ?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan mengenai kesenian wayang kulit yang semakin hari semakin memudar ini adalah sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui latar belakang masalah yang terjadi dalam keseian wayang kulit pada jaman sekarang ini

2.      Mengetahui potensi dan kebudayaan Bangsa Indonesia khususnya dalam kesenian wayang kulit

3.      Memberikan pemikiran terhadap para generasi muda agar dapat melestarikan salah satu kesenian yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia khususnya wayang kulit

4.      Dapat menghargai kembali kesenian-kesenian tradisional dan mejaga agar tidak punah ditelan jaman

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Wayang Kulit

Wayang kulit adalah sebagian dari produk seni tradisionil klasik, yang secara sadar dikembangkan secara konsepsionil. Konsep ini kemudian berakibat adanya perumusan seni yang kemudian dipertahankan kelestariannya oleh pencintanya. Konsep tersebut dibuat oleh orang yang biasa kita sebut dengan istilah “empu”. Empu-empu ini merupakan orang yang dekat dengan orang yang mempunyai kekuasaan, misalnya raja-raja. Selain itu empu juga seorang yang menurut istilah sekarang disebut “all round”. Mumpuni dalam hampir segala bidang, dia seorang sastrawan, ahli politik, ahli hukum, ahli siasat, ahli pandai besi. Contohnya Empu Gandring. Wayang merupakan salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia. Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan. Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.

B. Sejarah Wayang Kulit

Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain. Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, Negeri Eropa yang pernah menjajah India. Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pewayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.

Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmurnya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakimpoi berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakimpoi, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi India, adalah Baratayuda Kakimpoi karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).

Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawayang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah pertunjukan wayang. Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehistoric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indonesia halaman 987.

C. Eksistensi Kesenian Wayang Kulit Saat Ini

Perkembangan kesenian dipengaruhi oleh segi lingkungan yang berupa keadaan masyarakat, pendidikan, dan situasi budaya suatu kelompok masyarakat dimana seni tersebut berada. Baiklah kita tinjau satu persatu.

Keadaan masyarakat, sifat dari masyarakat yang sudah maju sudah kita ketahui, yaitu individuil. Sedangkan sifat masyarakat yang belum maju adalah tradisionil. Individuil adalah sikap hidup yang diketahui berasal dari barat. Sedang tradisionil ini merupakan sikap hidup masyarakat timur pada umumnya.

Faktor pendidikan, ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesenian. Seperti kita ketahui, sistem pendidikan jaman kolonial Belanda mengakibatkan kita tidak mengenal lagi kebudayaan tradisionil kita secara utuh. Ini baru dapat diakhiri setelah Indonesia merdeka. Tetapi kita sudah terlanjur tidak kenal lagi dengan kebudayaan kita sendiri. Yang kita kenal adalah semua seni berorientasi ke dunia barat.

Faktor situasi budaya, apabila suatu kesenian tradisionil masih kuat atau hidup, maka ini akan berpengaruh kepada seniman-seniman yang hidup disekitar tempat itu. Demikian pula andaikan kehidupan tidak memperlihatkan seni tradisionil, maka seniman-seniman itu akan mencari pegangan lain yang bukan tradisionil lagi.

Dari tiga hal diatas, jelaslah sudah apa-apa yang menjadikan wayang kita itu menjadi kabur. Yang jelas sekarang kita hidup pada jaman modern. Dan kita tidak menginginkan seni tradisionil kita binasa. Harus ada pendekatan antara hidup modern dan tradisionil. Dan juga harus ada kesadaran bahwa hal itu memang perlu. Wayang tadinya merupakan salah satu bentuk upacara tradisionil yang menjadi satu kesatuan dengan kehidupan orang. Tetapi karena faktor-faktor diatas tadi, menjadi satu bentuk seni yang terlepas dari kehidupan. Hanya menjadi tontonan, untuk kesenangan saja. Kalau kita menghidupkan wayang, hanyalah karena “supaya tidak punah”, merupakan kebudayaan lama, sisa-sisa leluhur kita. Tetapi bukan karena pribadi membutuhkan, secara utuh wayang, tidak menghayatinya untuk apa kita menghidupkannya, bukan dari segi estetisnya, bukan pula dari segi isinya. Padahal suatu seni hanya dapat hidup bila dibutuhkan. Orang mempunyai seni memainkan wayang, karena ia ingin dan butuh suatu media untuk melambangkan sesuatu yang diinginkan, melemparkan pesan kepada orang lain, memuaskan emosi, kesedihan, kegembiraan, perasaan-perasaan lain, yang menjadi uneg-uneg. Jadi bukan sekedar untuk disuguhkan kepada penonton.

D. Jenis-Jenis Kesenian Wayang

Kesenian wayang yang telah kita kenal tidak hanya sekedar wayang kulit saja, melainkan beberapa jenis wayang yang mempunyai karakteristik dan ciri khas yang berbeda satu sama lain. Jenis-jenis kesenian wayang tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Wayang Kulit, terdiri dari:

a)      Wayang purwa

b)      Wayang madya

c)      Wayang gedog

d)     Wayang dupara

e)      Wayang wahyu

f)       Wayang suluh

g)      Wayang kancil

h)      Wayang calonarang

i)        Wayang krucil

j)        Wayang ajen

k)      Wayang sasak

l)        Wayang sadat

m)    Wayang parwa

2.      Wayang Kayu, terdiri dari:

a)      Wayang golek (Bojonegoro)

b)      Wayang menak

c)      Wayang cepak

d)     Wayang klithik

3.      Wayang beber

4.      Wayang orang, terdiri dari:

a)      Wayang gung (Kalimantan Selatan)

b)      Wayang topeng

5.      Wayang suket

6.      Wayang timplong

7.      Wayang arya

8.      Wayang potehi

9.      Wayang gambuh

10.  Wayang cupak

Ada juga janis-jenis wayang kulit menurut asal daerah dan suku. Dalam pementasan wayang kulit juga digunakan beberapa bahasa yang digunakan selain bahsa Jawa, diantaranya adalaha bahasa Melayu Lokal seperti bahasa Betawi, bahasa Palembang dan bahasa Banjar. Berikut berbagai jenis wayang menurut asal dan suku:

1.      Wayang Jawa Yogyakarta

2.      Wayang Jawa Surakarta

3.      Wayang Kulit Gagrak Banyumas

4.      Wayang Jawa Timur

5.      Wayang Bali

6.      Wayang Sasak

7.      Wayang Kulit Banjar

8.      Wayang palembang

9.      Wayang Betawi

10.  Wayang Cirebon

11.  Wayang Madura (sudah punah)


BAB III

KESIMPULAN

Dari berbagai masalah mengenai wayang kulit ini penulis menyiumpulkan beberapa poin yang menjadi landasan masalah mengenai kesenian wayang kulit, bahwa:

  1. Wayang dikenal sejak jaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.
  2. Wayang merupakan kesenan tradisinal Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO  pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
  3. Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahharata dan Ramayana.
  4. Sekarang ini wayang lebih dipertunjukkan untuk sekedar bersenang-senang tanpa memperlihatkan arti dan makna yang sesungguhnya dari pertunjukkan wayang yang disuguhkan.

BAB IV

SARAN

Saran dari penulis disini adalah untuk mengembangkan kesenian wayang kulit agar tidak termakan jaman kuncinya adalah pendidikan. Pendidikan disini memegang peranan penting, seperti juga pada masa lalu karena pendidikan yang menyebabkan kita mengenal lagi kebudayaan kita. Dengan pendidikan, kita tidak mengenal lagi kebudayaan atau kesenian kita punah atau yang “hampir” punah ini kepada generasi yang akan datang. Apresiasi sebagai jalan mempercepat proses kenalnya. Disini pentingnya pentas-pentas. Semakin banyak pentas, semakin banyak “perkenalan” dengan seni tradisionil.


Daftap Pustaka

Tentang kiopo

newbie blogger
Pos ini dipublikasikan di Anthropology dan tag . Tandai permalink.

34 Balasan ke WAYANG KULIT, RIWAYATMU KINI (TUGAS ANTROPOLOGI)

  1. naszyjniki berkata:

    I fully agree with author opinion.

  2. Travel Deals berkata:

    Hi I like your comment and it is so informational and I am definetly going to save it. One thing to say the Indepth analysis you have done is greatly remarkable.No one goes that extra mile these days? Well Done! Just another suggestion you shouldinstall a Translator Application for your Worldwide Audience !!!

  3. Salam damai n sejahtera Yudha, posting yang informative. Kl blh ksh saran, akan lebih baik jika postingnya direkomendasikan di berbagai social directory, feedburner, dsb, agar bs bermanfaat untuk pembaca yang lebih luas, salam kenal, feel good, sukses selalu.

  4. Salam damai n sejahtera Yudha, posting yang informative. Kl blh ksh saran, akan lebih baik jika postingnya direkomendasikan di berbagai social directory, feedburner, dsb, agar bs bermanfaat untuk pembaca yang lebih luas, salam kenal, feel good, sukses selalu.

  5. Artikel yang informative gan. Kl blh tau, di mana juragan mendapatkan tema themenya? Themenya sangat bagus, sepertinya itu yang dirancang secara profesional,thanks.

  6. Damian Mandigo berkata:

    I really liked reading your post!. Quallity content. With such a valuable blog i believe you deserve to be ranking even higher in the search engines🙂

  7. Aw, this was a very nice post. In idea I want to put in writing like this moreover – taking time and precise effort to make a very good article… but what can I say… I procrastinate alot and certainly not seem to get something done.

  8. very nice submit, i certainly love this web site, carry on it

  9. Brant Apley berkata:

    Thanks for the post I actually learned something from it. Very good content on this site Always looking forward to new post.

  10. Great. Wonderful. You really have explained the subject and more importantly, you have controlled the fine art of article penning. Ready for more posts from you.

  11. kitchen cabinet berkata:

    Resources like the one you referred here will be really structural to me! I will post a connection to this page on my blog. I am positive my visitors will find that very reusable.

  12. cyuugtbpdo berkata:

    YXvI8z vfhxrargnogn, [url=http://fxuvxpotvgno.com/]fxuvxpotvgno[/url], [link=http://rtdolcbviaeu.com/]rtdolcbviaeu[/link], http://uxzupkcwmhjv.com/

  13. I apperceive i am a small away topic, but i just funds to say i adulation the blueprint of the blog. i am new in the direction of blogegine platform, so any tips on accepting my web page analytic good can be appreciated.

  14. small kitchens berkata:

    Hehe, the article took quite a while to read but it sure worth it

  15. this has all while using usefull data necessary.

  16. Which plugins are you using on your web site? I just shifted over from a WordPress so I’m merely getting to get the hang of matters here.

  17. Yuette Licano berkata:

    Im thankful for the blog post. Keep writing.

  18. Albert Gelzinis berkata:

    After reading this post you may want to visit my web site as we are both on a like minded wave length.

  19. Maya berkata:

    The various comments here are really good and to the point. It’s good to see some people genuinely read a blog before commenting.

  20. template berkata:

    My brother suggested I could possibly like this site. He was entirely proper. This post truly made my day. You may not envision just just how much time I had spent for this information and facts! Thanks!

  21. Melanie berkata:

    Great post quite helpful information. I must for sure get back again to your website again to look at some of the other submissions. Well done!

  22. bathrooms berkata:

    Is it alright if I steal this post on my blog?

  23. Kaylee berkata:

    Very informative site and your site seems to have loads of people adding comments so you must be doing something good.

  24. interesting blog . It would be great if you can put up more contingents about it. Thanks you.

  25. Audrey berkata:

    It was a real excitement discovering your website this morning. I arrived here just now hoping to get fascinating things. I was not let down. Your ideas with new solutions on this area were informative along with a great assist to me and my spouse. Thank you for making time to produce these issues and for sharing your thinking.

  26. bathroom units berkata:

    If you are trying to get your hands on cheap kitchens for sale, perhaps you’ll want to give consideration to buying an ex display kitchen. Regardless for anyone who is looking to remodel your current kitchen, or you are searching to completely revolutionise the present style of your kitchen, these displays can benefit you enormously.

  27. rigid kitchens berkata:

    For people who live inside the state of Minnesota, residence improvement is an essential topic, just like it truly is everywhere else inside the country. Of course 1 of the rooms in homes that most sometimes ends up needing a face lift is the kitchen. Soon after all, in quite a few houses, the living is all centered around the kitchen. If you are planning a kitchen remodel in your Twin Cities household, then you might be almost certainly thinking about some kitchen remodeling ideas and guidelines. Here are some tops tips which will allow you to out when remodeling your kitchen.

  28. Damian Chenevey berkata:

    85% of Grandparent Respondents Favor Marijuana Legalization, According to GRAND Magazine Reader Poll. Online Magazine for Grandparents Releases Response Results to Op-Ed Question Posed in its March/April Issue. leagal weed

  29. webcamsex berkata:

    I am completely satisfied for this important outstanding page; this can be the form of field that sustains me though out the day.We’ve at all times heard been now not too long ago wanting on the subject of inside your web-site correct proper after I realized about these from a shut shut friend and was once delighted once i was once in a placement to obtain it adhering to shopping out for some time. Being a passionate blogger, I’m happy to find out other most individuals taking project and adding to the neighborhood. I just wished to remark to show my comprehension for just a distribute because it is especially inviting, and lots of writers really do not get the credit score ranking they should have. I’m high-quality I’ll be back once more once more and might ship just a few of my mates.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s